Pulau Cina Harapan Baru Penyelamatan Penyu di Belitong UNESCO Global Geopark
Selasa, 7 April 2026 WIB
Belitung, 7–8 April 2026 — Bersama dengan gugusan granit purba, Belitong UNESCO Global Geopark berdiri sebagai salah satu kawasan yang tidak hanya memamerkan sejarah geologi bumi, tetapi juga merawat kehidupan yang tumbuh di dalamnya termasuk kehidupan pesisir, terumbu karang, padang lamun, mangrove dan salah satu penghuni paling purba di lautan: penyu. Geopark bukan sekadar label pengakuan internasional. Ia adalah komitmen. Sebuah janji bahwa kekayaan alam tidak hanya dilindungi, tetapi juga dikelola secara bijak untuk generasi mendatang. Komitmen ini menemukan wujud nyatanya di pesisir dan pulau-pulau kecil, salah satunya adalah Pulau Cina, sebuah pulau yang kini menjadi salah satu titik harapan bagi upaya penyelamatan penyu.
Pulau Cina, yang berada dalam Kawasan Konservasi Daerah (KKD) Belitung, memiliki perairan yang relatif tenang dan pantai berpasir yang menjadi lokasi penting bagi penyu untuk bertelur. Pulau ini menyimpan peran ekologis yang besar: menjadi tempat awal kehidupan bagi generasi baru penyu. Namun, seperti banyak habitat lainnya, kawasan ini juga menghadapi tantangan dari aktivitas predator, perubahan iklim, dan kemungkinan degradasi habitat. Menyadari urgensi tersebut, berbagai pihak bersatu dalam sebuah kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat upaya penyelamatan penyu di Belitung. Kegiatan ini melibatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik dan Loka Pengelolaan Kelautan Pekanbaru, BKSDA Sumatera Selatan, Dinas Perikanan Kabupaten Belitung, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Badan Pengelola Geopark Belitung, serta sektor swasta yang menjadi pengelola penyelamatan penyu di Pulau Cina melalui PT. Penyu Lima Konservindo. Kolaborasi ini menjadi refleksi bahwa konservasi membutuhkan sinergi, kepercayaan, dan tujuan bersama.
Langkah awal kolaborasi ini diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Strategi Pengelolaan Penyu yang dilaksanakan pada 7 April 2026. Ruang pertemuan Kantor Bupati Belitung dihadiri oleh beragam pemangku kepentingan: pemerintah, pelaku wisata, asosiasi, hingga masyarakat lokal. Diskusi ini menjadi ruang bertemunya perspektif antara kebutuhan ekonomi dan tanggung jawab ekologis. Dalam forum tersebut, Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Penataan Ruang Laut dan Kerjasama Luar Negeri, Ibu Dyah Erowati hadir dan menegaskan bahwa status Geopark Belitong membawa tanggung jawab yang jauh melampaui kebanggaan semata. “Status geopark tidak hanya menekankan pada keunikan geologi, tetapi juga menuntut integrasi yang kuat antara konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan,” sebuah pernyataan yang menggarisbawahi bahwa masa depan geopark ditentukan oleh keseimbangan antara manusia dan alam.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa penyu bukan hanya spesies yang dilindungi, tetapi juga indikator kesehatan ekosistem laut. Keberadaannya mencerminkan kualitas habitat pesisir jika penyu masih datang untuk bertelur, maka ekosistem masih memiliki harapan. Namun sebaliknya, hilangnya penyu bisa menjadi tanda awal kerusakan yang lebih besar. Oleh karena itu, konservasi penyu harus dilakukan secara sistematis, terukur, dan berkelanjutan melalui roadmap yang jelas serta penguatan implementasi di lapangan.
Senada dengan itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Belitung menekankan bahwa keberhasilan konservasi penyu memiliki kaitan langsung dengan keberlanjutan status geopark. “Strategi pengelolaan dan konservasi penyu yang tepat sangat penting dalam mendukung proses revalidasi UNESCO Global Geopark,” ujarnya, mengingatkan bahwa pengelolaan warisan alam harus mencakup geologi, budaya, dan keanekaragaman hayati secara utuh.
Sosialisasi ini juga menyoroti pentingnya perubahan paradigma dari eksploitasi menuju konservasi berbasis manfaat. Penyu yang dulu kerap menjadi objek pemanfaatan kini diarahkan menjadi daya tarik ekowisata yang berkelanjutan. Pelepasliaran tukik, edukasi lingkungan, hingga wisata berbasis konservasi menjadi alternatif yang tidak hanya menjaga kelestarian, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Memperkuat arah kebijakan tersebut, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik KKP, Sarmintohadi, dalam paparannya turut menegaskan bahwa konservasi penyu merupakan bagian dari strategi nasional untuk menjamin keberlanjutan ekologi sekaligus kesejahteraan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa “konservasi dilakukan melalui tiga pilar utama, yaitu perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan berkelanjutan,” yang harus dilaksanakan secara terpadu dan berbasis data.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa upaya konservasi penyu tidak dapat dilepaskan dari tantangan yang ada, seperti penurunan populasi, degradasi habitat, serta tekanan aktivitas manusia. Oleh karena itu, diperlukan penguatan sistem pemantauan, penegakan hukum, serta keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari solusi jangka panjang. “Konservasi tidak hanya bertujuan menjaga spesies, tetapi juga memastikan keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Selanjutnya, 8 April 2026, dukungan upaya pengelolaan penyu juga dilakukan melalui kunjungan lapangan ke Pulau Cina yang dikelola oleh PT Penyu Lima Konservindo. Peninjauan fasilitas sarana dan prasarana dimulai dari area penetasan semi-alami, hatchery hingga sarana pendukung edukasi, kunjungan ini menjadi momen penting untuk memastikan kesiapan lokasi sebagai pusat konservasi penyu yang terintegrasi dengan kegiatan wisata dan pendidikan.
Kunjungan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga simbolis menunjukkan bahwa komitmen yang dibahas di ruang rapat benar-benar diterjemahkan ke dalam aksi nyata di lapangan. Pulau Cina diproyeksikan tidak hanya sebagai lokasi konservasi, tetapi juga sebagai ruang belajar terbuka. Upaya yang dilakukan di Belitung ini sejalan dengan kebijakan nasional melalui Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Penyu, yang menekankan perlindungan habitat penting, pengurangan ancaman seperti perburuan dan perdagangan ilegal, serta penguatan sistem data dan pemantauan. Pendekatan ini menempatkan konservasi tidak hanya sebagai kewajiban ekologis, tetapi juga sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan yang inklusif.
Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan tekanan pembangunan pesisir, upaya penyelamatan penyu di Belitung menjadi contoh bagaimana pendekatan lokal dapat memberikan dampak global. Upaya penyelamat ini akan menjadi sebuah perjalanan yang kini sedikit lebih aman berkat kolaborasi banyak pihak. Pada akhirnya, menjaga penyu berarti menjaga keseimbangan laut. Dan menjaga laut berarti menjaga masa depan geopark itu sendiri. Dengan kolaborasi yang terus diperkuat, Belitung tidak hanya mempertahankan statusnya sebagai geopark dunia, tetapi juga menegaskan dirinya sebagai kawasan yang benar-benar hidup di mana alam dilindungi, manusia diberdayakan, dan keberlanjutan menjadi jalan bersama.
JALAN BUDI LUHUR KELURAHAN MENTANGOR PEKANBARU-RIAU 28286
Telp : (0761) 8404510 Hotline WA : 0811666642
Email: lpk.pekanbaru@kkp.go.id
Call Center KKP: 141