Teknologi Biokonversi dengan Larva BSF magot Solusi Inovatif untuk Lingkungan dan Ekonomi
Sabtu, 30 November 2024 WIB
Memasuki 20 tahun perjalanan teknologi biokonversi di Indonesia, Balai Riset Budidaya Ikan Hias bekerja sama Asosiasi BSF Indonesia (ABSF-I) mengadakan Diskusi Nasional BSF bertema "Dukungan BSF dalam Membangun Ekonomi Sirkular dan Pengurangan Emisi Karbon." Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kolaborasi antara pemangku kepentingan, diantaranya pelaku budidaya BSF, pengguna BSF, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, lembaga keuangan, dan komunitas lingkungan. Peserta yang hadir 250 orang baik secara offline maupun online yang ditayangkan melalui youtube BRBIH.
Kegiatan ini menghadirkan pakar, pihak pemerintah, dan pelaku industri dari dalam dan luar negeri diantaranya adalah:
1. Vinda Damayanti (Direktur Penanganan Sampah, KLH)
2 . Mohamad Rahmat Mulianda, S.Pi., M.Mar (Direktur Kelautan dan Perikanan, Bappenas)
3. Anggi Pratiwi Putri, S.T., M.Env. (Perencanaan Direktorat Lingkungan Hidup, Bappenas)
4. Bram Dortmans (Eclose GmbH)
5. Chalid Muhammad (Ketua Dewan Sampah Indonesia)
6. Markus Susanto (CEO PT Maggot Indonesia Lestari)
Menurut Ketua Umum ABSF-I, Prof. Agus Pakpahan, "Memasuki usia 20 tahun biokonversi, teknologi ini telah membawa dampak signifikan terhadap pengelolaan limbah organik, pengurangan emisi karbon, dan pembangunan ekonomi sirkular." Teknologi ini tidak hanya menjadi solusi Malasah lingkungan, tetapi juga inspirasi tapi juga menghadirkan sumber protein untuk pangan yang berkelanjutan.
Dr. Joni Haryadi, Kepala BRBIH, menambahkan, "Inovasi biokonversi lahir dari tantangan terbesar dalam pembudidayaan ikan di Indonesia, yaitu kebutuhan pakan berkualitas dengan harga terjangkau. Kehadiran BSF membantu menjawab tantangan ini sekaligus mengatasi masalah food waste"
Dikatakan, inovasi biokonversi lahir dari tantangan dan permasalahan terbesar pembudidaya ikan di Indonesia yaitu ketersediaan pakan dengan kualitas bagus dan harga terjangkau. 60-70% biaya produksi ikan dikeluarkan untuk pembelian pakan. Di sisi lain nutrisi “terbuang” sia-sia di alam dalam bentuk sisa organik makanan”, kehadirannya menjadi permasalah lingkungan, penyebaran penyakit serta bau yang tidak mengenakan. Menurut hasil kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) bersama sejumlah lembaga, Indonesia membuang sampah makanan 23-48 juta ton per tahun pada periode 2000-2019 atau setara dengan 115-184 kilogram per kapita per tahun. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan sebesar Rp 213 – 551 triliun/tahun atau setara dengan 4-5 persen PDB Indonesia per tahun. Secara sosial, kehilangan ini setara dengan kandungan energi untuk porsi makan 61-125 juta orang per tahun.
Teknologi biokonversi berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF) telah membawa dampak besar dalam pengelolaan sampah, pengurangan emisi karbon, dan pembangunan ekonomi sirkular di Indonesia. Sejak diperkenalkan pada 2004, teknologi ini mengolah sampah organik, menghasilkan protein alternatif, dan meningkatkan kualitas lahan, terutama di negara tropis seperti Indonesia. Dengan produksi sampah organik mencapai 15,4 juta ton dari total 38,7 juta ton sampah pada 2023, inovasi BSF menjadi solusi penting untuk mengurangi masalah lingkungan dan memanfaatkan sumber daya secara berkelanjutan.
Manfaat Teknologi BSF:
1. Mengolah sampah organik menjadi biomassa bernilai ekonomis.
2. Mengurangi patogen melalui enzim antimikroba.
3. Menghasilkan bahan pakan alternatif.
Acara ini menjadi ajang penting untuk mendapatkan wawasan tentang inovasi terbaru dalam teknologi biokonversi dan dampaknya terhadap lingkungan dan ekonomi, berdiskusi langsung dengan pelaku industri, pemerintah, komunitas, dan akademisi yang telah berkontribusi dalam pengembangan teknologi BSF, serta membangun jejaring dengan komunitas penggiat biokonversi, pengguna maggot, dan pihak-pihak terkait lainnya.
Jl. Perikanan No. 13 Pancoran Mas Depok
085171604719
Email: publikasi.bppbih@gmail.com
Call Center KKP: 141