PEMANFAATAN TANAMAN HERBAL UNTUK BUDIDAYA IKAN

Rabu, 24 Juni 2026 WIB

Penulis: Tatik Mufidah

 

Akuakultur atau budidaya perikanan merupakan sektor pangan yang berkembang paling cepat di dunia. Menurut data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), kontribusi hasil budidaya terhadap total produksi perikanan global terus meningkat dan saat ini telah melampaui hasil tangkapan perikanan di beberapa negara. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa budidaya ikan memiliki peran strategis dalam menjamin ketahanan pangan dan penyediaan sumber protein bagi masyarakat. Namun, peningkatan produksi sering kali diikuti oleh meningkatnya risiko penyakit. Intensifikasi budidaya menyebabkan kepadatan ikan semakin tinggi sehingga mempermudah penyebaran agen patogen. Berbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, dan parasit menjadi penyebab utama kerugian ekonomi pada usaha budidaya ikan. Penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila, streptococcosis oleh Streptococcus agalactiae, maupun infeksi parasit seperti Trichodina dan Ichthyophthirius multifiliis merupakan beberapa contoh penyakit yang sering ditemukan pada ikan budidaya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, penggunaan antibiotik dan bahan kimia sintetis selama bertahun-tahun menjadi pilihan utama. Akan tetapi, penggunaan yang berlebihan dan tidak terkontrol telah memunculkan berbagai masalah baru, seperti pencemaran lingkungan, residu pada produk perikanan, gangguan keseimbangan mikroorganisme perairan, serta meningkatnya kejadian resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR).

Kesadaran global mengenai pentingnya produksi pangan yang aman dan berkelanjutan telah mendorong pencarian alternatif pengendalian penyakit yang lebih ramah lingkungan. Salah satu alternatif yang banyak mendapat perhatian adalah pemanfaatan bahan alami, khususnya tanaman herbal. Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki kekayaan tanaman obat yang sangat besar dan berpotensi dimanfaatkan dalam bidang akuakultur. Berbagai tanaman herbal diketahui mengandung senyawa bioaktif yang mampu meningkatkan kesehatan ikan, mengendalikan penyakit, dan memperbaiki performa budidaya tanpa menimbulkan dampak negatif yang besar terhadap lingkungan. Tanaman menjadi sumber bahan obat yang potensial karena beragam kandungan bahan bioaktif yang terdapat didalamnya antara lain alkaloid, terpenoid, tannin, saponin, glikosida, flavonoid, fenolik dan steroid sehingga memiliki beragam fungsi antara lain dapat berperan sebagai antioksidan, antibakteri, antiparasit, antihelmintik, imunostimulan, meningkatkan pertumbuhan dan sintasan ikan (Vaseeharan dan Thaya 2013; Reverter et al. 2014).

Sebagai respons terhadap permasalahan tersebut, berbagai negara mulai mengembangkan pendekatan budidaya yang lebih berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia secara lokal.  Potensi penggunaan tanaman obat pada budidaya ikan antara lain sebagai sumber bahan obat yang murah, mudah dalam pembuatan, tidak berbahaya serta mudah terurai di lingkungan sehingga tidak mencemari lingkungan (Harikrishnan et al. 2011; Ngo 2015). Pemberian tanaman obat pada budidaya ikan dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan atau pengobatan dalam manajemen kesehatan ikan (Wahjuningrum et al. 2014; Rahman et al. 2017) berupa tindakan untuk menghindari infeksi penyakit dan mengurangi atau menghilangkan efek infeksi penyakit. Pemberian tanaman obat pada budidaya ikan sebagai Upaya pencegahan dan pengobatan penyakit dapat dilakukan dengan cara pengkayaan pada pakan (Talpur 2014) dan perendaman (Nuryati et al. 2015; Astria et al. 2017). Salah satu pendekatan yang dinilai sangat potensial adalah penggunaan tanaman herbal sebagai agen pencegahan dan pengendalian penyakit ikan.

Keanekaragaman Tanaman Herbal Indonesia sebagai Sumber Obat Ikan Alami

Ketersediaan biodiversitas yang tinggi di Indonesia, menyediakan ribuan spesies tanaman obat tumbuh secara alami maupun dibudidayakan oleh masyarakat. Sebagian besar tanaman tersebut telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional manusia dan mulai diteliti pemanfaatannya pada sektor akuakultur. Tanaman herbal memiliki berbagai metabolit sekunder yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan alami tanaman terhadap serangan mikroorganisme maupun herbivora. Senyawa metabolit sekunder tersebut antara lain alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid, triterpenoid, fenol, kurkuminoid, dan minyak atsiri. Dalam bidang kesehatan ikan, senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas biologis yang beragam, yaitu: (1) antibakteri; (2) antivirus; (3) antijamur; (4) antiparasit; (5) antioksidan; (6) antiinflamasi; (7) imunostimulan; (8) growth promoter (pemacu pertumbuhan). Karakteristik inilah yang menjadikan tanaman herbal sebagai salah satu kandidat terbaik dalam pengembangan obat ikan berbasis bahan alami.

Mekanisme Kerja Tanaman Herbal dalam Meningkatkan Kesehatan Ikan

Berbeda dengan antibiotik yang umumnya bekerja secara spesifik terhadap mikroorganisme tertentu, tanaman herbal memiliki mekanisme kerja yang lebih kompleks. Beberapa senyawa aktif dapat bekerja secara langsung membunuh atau menghambat pertumbuhan patogen, sementara senyawa lainnya meningkatkan kemampuan sistem imun ikan. Flavonoid, misalnya, berfungsi sebagai antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas dan melindungi sel tubuh ikan dari kerusakan oksidatif. Saponin berperan dalam meningkatkan respons imun dengan merangsang aktivitas fagosit. Tanin mampu merusak membran sel mikroorganisme sehingga menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Pendekatan ini memberikan keuntungan besar karena tidak hanya berfokus pada agen penyakit, tetapi juga memperkuat inang (ikan) agar lebih mampu bertahan terhadap infeksi.

Pemanfaatan Beberapa Tanaman Herbal dalam Budidaya Ikan

Bawang Putih (Allium sativum)

Bawang putih merupakan salah satu tanaman herbal yang paling banyak digunakan dalam budidaya ikan. Senyawa allicin yang terkandung di dalamnya memiliki aktivitas antibakteri yang kuat terhadap berbagai bakteri dan jamur penyebab penyakit, Bawang putih berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh membuat ikan lebih kuat menghadapi stres dan penyakit. Penelitian menunjukkan bahwa suplementasi bawang putih dalam pakan dapat meningkatkan pertumbuhan ikan nila, meningkatkan jumlah leukosit, serta meningkatkan tingkat kelangsungan hidup setelah uji tantang dengan Aeromonas hydrophila. Bawang putih juga berperan sebagai antiparasit dengan membantu mengatasi serangan parasit eksternal misalnya serangan kutu ikan. Selain itu, bawang putih juga diketahui mampu meningkatkan nafsu makan sehingga berkontribusi terhadap efisiensi pakan.

Gambar 1. Bawang putih

Sumber foto: Google

 

Pemberian bawang putih untuk terapi pada ikan bisa dilalakukan dengan dicampurkan ke dalam pakan (paling aman dan efektif) disamping itu lebih aman karena tidak merusak kualitas air. Caranya pemberiannya dengan menghaluskan 1–2 siung bawang putih, dicampur dengan sedikit air hangat, ambil sarinya. Kemudian pelet/cacing beku direndam selama ±10 menit kemudian diberikan ke ikan. bawang putih juga bisa diberikan dengan cara perendaman singkat (quarantine tank), untuk ini bisa dilakukan dengan menghaluskan 2–3 siung bawang putih yang dicampurkan dalam 1 liter air, kemudian disaring dan ikan yang sakit dimasukkan ke dalam larutan bawang putih selama 15–20 menit, pemberian dengan perendaman dilakukan hanya di wadah karantina, bukan kolam utama. Sebagai catatan pemberian bawang putih tidak terlalu pekat karena akan membuat ikan stress, metode perendaman maksimal dilakukan 2x seminggu.

Kunyit (Curcuma longa)

Khasiat kunyit sebagai antibakteri dan antijamur terkandung dalam zat kurkumin dalam kunyit yang mampu meningkatkan imunitas atau sistem kekebalan tubuh membantu membunuh bakteri dan jamur penyebab penyakit. Kunyit mengandung kurkumin yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi (anti radang) yang tinggi sehingga mampu membantu menyembuhkan luka atau radang pada kulit, sirip, atau insang ikan. Dalam budidaya ikan, kunyit sering digunakan sebagai bahan tambahan pakan untuk meningkatkan kesehatan hati, memperbaiki metabolisme, Penggunaan kunyit juga dilaporkan mampu memperbaiki performa pertumbuhan ikan lele dan nila serta meningkatkan ketahanan terhadap infeksi bakteri.

Gambar 2. Kunyit

Sumber foto: Google

 

Pemberian kunyit pada Ikan dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya metode perendaman (quarantine tank) dengan cara ±1 ruas kunyit.kunyit dihaluskan, selanjutnya direbus dalam 1 liter air hingga mendidih, kemudian dinginkan, lalu masukkan ke akuarium/kolam isolasi (dosis ±10 ml per liter air). Ikan sakit direndam ikan sakit selama 15–30 menit, 2–3 kali seminggu. Cara pemberian kunyit selanjutnya adalah dengan mencampur dalam pakan. Pada pemberian ini terlebih kunyit diparut terlebih dahulu untuk diambil sarinya. Selanjutnya dicampurkan ke dalam pellet atau cacing beku, kemudian dikeringanginkan, hingga diberikan pada ikan untuk meningkatkan imunitas dan nafsu makan. Kunyit juga bisa diberikan sebagai olesan untuk luka luar, pada ikan besar (contoh: koi, gurame), bubuk kunyit bisa dioles tipis ke bagian luka, cara hanya bisa dilakukan saat ikan bisa ditangani langsung. Pada penggunaan kunyit perlu diperhatikan beberapa hal diantaranya, jangan memberikan kunyit dalam jumlah terlalu banyak karena bisa menurunkan kualitas air, hanya digunakan hanya saat terapi, bukan setiap hari dan selalu pisahkan ikan sakit di wadah karantina sebelum terapi intensif.

Daun Sirih (Piper betle)

Daun sirih telah dikenal mempunyai khasiat antiseptik alami dalam membunuh bakteri, jamur, dan virus penyebab penyakit. Daun sirih mengandung minyak atsiri, eugenol, dan berbagai senyawa fenolik yang memiliki aktivitas antimikroba tinggi. Dalam praktik budidaya, ekstrak daun sirih sering digunakan untuk perendaman ikan yang terinfeksi bakteri, jamur, maupun ektoparasit. dapat dimanfaatkan untuk mengatasi luka luar pada ikan, sirih membantu mempercepat penyembuhan luka pada sisik/ekor. Air rebusan sirih juga bisa mencegah jamur pada telur ikan. sebagai anti parasit, sirih mampu menekan pertumbuhan parasit yaitu dengan membuat kondisi air kurang nyaman untuk organisme penyebab penyakit.

Gambar 3. Daun Sirih

Sumber foto: Koleksi pribadi

Pemberiaan daun sirih pada ikan dilakukan melalui beberapa cara diantaranya metode perendaman (paling umum). Caranya yaitu dengan merebus 5–10 lembar daun sirih segar dalam 1 liter air sampai air berwarna hijau kecokelatan, kemudian didinginkan, lalu campurkan ke dalam kolam/akuarium (sekitar 10–20 ml per liter air). Metode selanjutnya yaitu Metode Daun Kering. Daun sirih dikeringkan kemudian masukkan langsung 2–3 lembar ke akuarium/kolam kecil, dengan cara ini daun sirih perlahan akan melepaskan zat aktif yang bersifat antiseptik. Pemberian daun sirih pada luka langsung dilakukan dengan cara daun sirih direbus, airnya digunakan untuk merendam ikan yang sakit selama 15–30 menit, lalu kembalikan ke kolam/akuarium utama. Hal yang perlu diperhatikan adalah pemberian daun sirih tidak terlalu pekat karena bisa membuat ikan stres atau mati, terapi dilakukan 2–3 kali seminggu, tidak setiap hari, dan selalu amati respon ikan setelah pemberian.

Daun Ketapang (Terminalia catappa)

Daun ketapang mengandung tanin dan flavonoid yang bersifat antibakteri, antijamur, dan antiparasit berguna untuk terapi penyakit ikan. Meningkatkan daya tahan tubuh dan mengurangi stres ikan dengan menjadikan lingkungan lebih sehat dengan membuat warna air kecokelatan (mirip habitat alami) sehingga membuat ikan lebih tenang dan kebal penyakit.  Daun ketapang mampu melepaskan zat tanin yang akan menstabilkan pH air dengan membuat air sedikit asam (pH 5–6,5) yang cocok untuk banyak jenis ikan hias. Pemberian daun Ketapang mampu mencegah dan mengobati jamur dan efektif untuk telur ikan agar tidak berjamur.

Gambar 4. Daun Ketapang

Sumber foto: koleksi pribadi

           Daun Ketapang dapat diberikan langsung dimasukkan ke dalam akuarium/kolam. Sebelum dimasukkan ke dalam akuarium, daun ketapang dicuci bersih, untuk akuarium kecil (20-50 liter), masukkan 1–2 lembar, sedangkan untuk kolam besar, bisa 5–10 lembar sesuai ukuran. Daun Ketapang juga dapat diberikan dalam bentuk Ekstrak. Cara pembuatannya yaitu rebus 5–10 lembar daun dalam 1 liter air hingga berwarna cokelat pekat. Kemudian didinginkan, lalu campurkan ke akuarium (10–20 ml per liter air). Metode ini cocok untuk perawatan intensif pada ikan sakit. Pada perawatan telur ikan, satu lembar daun ketapang dimasukkan ke wadah penetasan untuk membantu mencegah telur berjamur.

Daun Kirinyuh (Chromolaena odorata L.)  

Tanaman kirinyuh Chromolaena odorata (L.) termasuk ke dalam keluarga Asteraceae dengan bentuk daun oval, tepi daun bergerigi dan letak daun berhadaphadapan. Khasiat Utama daun kirinyuh untuk budidaya ikan adalah sebagai antibakteri dan antijamur. Daun kirinyuh mempunyai kandungan senyawa flavonoid, saponin, dan tannin mampu membunuh bakteri dan jamur penyebab penyakit pada ikan. Daun kirinyuh dapat digunakan untuk menyembuhkan luka luar, dimana ekstrak daun kirinyuh mempercepat proses penutupan luka pada kulit, sirip, atau insang ikan. Sebagai anti-parasit, senyawa yang terkandung akan membantu mengurangi serangan parasit eksternal pada ikan. Daun kirinyuh juga berkhasiat meningkatkan kekebalan tubuh ikan, pada lingkungan dengan air yang diberi ekstrak kirinyuh membuat ikan lebih tahan terhadap stres dan infeksi.

Gambar 5. Tanaman kirinyuh Chromolaena odorata (L.)

Sumber foto: koleksi pribadi

 

Pemberian daun kirinyuh pada ikan dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu diantaranya rebusan air daun kirinyuh dengan merebus ±10 lembar daun segar yang sudah dicuci bersih, kemudian direbus dalam 1 liter air hingga berwarna hijau kecokelatan, didiinginkan, lalu disaring. air rebusan tersebut kemudian dicampurkan ke dalam akuarium/kolam (dosis 10–20 ml per liter air). Metode pemberian selanjutnya yaitu perendaman ikan sakit (quarantine tank). Ekstrak daun kirinyuh dimasukkan ke wadah karantina, rendam ikan 15–30 menit, diulang 2–3 kali seminggu. Pengobatan luka luar pada ikan dengan daun kirinyuh dapat dilakukan dengan menumbuk daun segar hingga halus, air perasannya bisa diteteskan ke bagian tubuh ikan yang luka (terutama ikan besar seperti koi/gurame). Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian adalah jangan terlalu pekat karena bisa menyebabkan ikan stress, selalu gunakan wadah karantina saat terapi intensif dan gunakan daun segar, tidak busuk atau berjamur.

Peran Herbal dalam Pengendalian Parasit dan Hama

Selain bakteri dan jamur, serangan parasit menjadi salah satu kendala utama dalam budidaya ikan. Parasit seperti Trichodina, Dactylogyrus, Gyrodactylus, dan Argulus dapat menyebabkan kerusakan jaringan, penurunan pertumbuhan, bahkan kematian massal. Beberapa tanaman herbal terbukti memiliki aktivitas antiparasit. Daun sirih, misalnya, sering digunakan dalam perendaman ikan untuk membantu mengurangi infestasi ektoparasit. Ekstrak tanaman mimba (Azadirachta indica) juga dilaporkan memiliki efek antiparasit dan insektisida alami. Pemanfaatan herbal untuk pengendalian hama dan parasit menjadi bagian penting dari strategi Pengelolaan Kesehatan Ikan Terpadu (Integrated Fish Health Management) yang mengedepankan pendekatan pencegahan dan keberlanjutan.

Kontribusi Tanaman Herbal terhadap Budidaya Perikanan Berkelanjutan

Budidaya berkelanjutan merupakan sistem produksi yang mampu memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam konteks akuakultur, keberlanjutan mencakup aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial. Penggunaan tanaman herbal mendukung ketiga aspek tersebut. Dari sisi ekonomi, biaya produksi dapat ditekan karena sebagian besar bahan herbal tersedia secara lokal. Dari sisi lingkungan, penggunaan bahan alami mengurangi pencemaran dan menjaga keseimbangan ekosistem perairan. Dari sisi sosial, penggunaan herbal dapat meningkatkan penerimaan konsumen terhadap produk perikanan karena dianggap lebih aman dan sehat.

Pencegahan Kontaminasi Lingkungan

Residu antibiotik dan bahan kimia sintetis yang masuk ke lingkungan dapat menyebabkan perubahan komunitas mikroorganisme perairan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas lingkungan budidaya dan mengganggu organisme non-target. Sebaliknya, sebagian besar senyawa aktif tanaman herbal mudah mengalami biodegradasi sehingga tidak menumpuk dalam lingkungan.  Oleh karena itu, penggunaan herbal dapat membantu mempertahankan kualitas air dan keberlanjutan ekosistem perairan. Pengurangan penggunaan bahan kimia juga sejalan dengan prinsip eco-friendly aquaculture yang saat ini menjadi perhatian utama dalam perdagangan produk perikanan global.

Tanaman Herbal dan Upaya Menekan Antimicrobial Resistance (AMR)

AMR merupakan salah satu ancaman kesehatan global yang mendapat perhatian serius dari FAO, WHO, dan WOAH. Dalam sektor akuakultur, penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan munculnya bakteri yang kebal terhadap berbagai jenis antibiotik. Bakteri resisten tidak hanya mengancam keberhasilan pengobatan penyakit ikan, tetapi juga berpotensi menyebar ke manusia melalui rantai makanan dan lingkungan. Oleh karena itu, pengurangan penggunaan antibiotik menjadi prioritas dalam pembangunan akuakultur modern. Tanaman herbal dapat menjadi solusi karena memiliki mekanisme kerja yang kompleks dan multisasaran. Senyawa aktif herbal tidak hanya menyerang patogen secara langsung, tetapi juga meningkatkan daya tahan tubuh ikan. Dengan demikian, kebutuhan penggunaan antibiotik dapat dikurangi secara signifikan. Pendekatan ini sejalan dengan konsep One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling terkait.

Tantangan Pengembangan Herbal untuk Akuakultur

Walaupun memiliki banyak manfaat, pemanfaatan herbal masih menghadapi beberapa kendala, antara lain:

·         Variasi kandungan senyawa aktif akibat perbedaan lokasi tumbuh dan musim.

·         Belum adanya standarisasi dosis.

·         Stabilitas bahan aktif yang berbeda-beda.

·         Keterbatasan produk komersial yang terstandarisasi.

·         Kurangnya transfer teknologi kepada pembudidaya.

Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan terkait formulasi, teknologi ekstraksi, metode aplikasi, serta pengembangan produk herbal yang memenuhi standar mutu dan keamanan.

Kesimpulan

Tanaman herbal memiliki potensi besar sebagai alternatif pengendalian hama dan penyakit ikan yang aman, efektif, dan ramah lingkungan. Kandungan senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan minyak atsiri mampu berperan sebagai antibakteri, antijamur, antiparasit, antioksidan, serta imunostimulan alami. Pemanfaatan herbal tidak hanya membantu meningkatkan kesehatan dan produktivitas ikan budidaya, tetapi juga mendukung sistem budidaya berkelanjutan melalui pengurangan penggunaan antibiotik dan bahan kimia sintetis. Selain itu, penggunaan herbal berkontribusi dalam menekan pencemaran lingkungan dan mencegah berkembangnya resistensi mikroba yang saat ini menjadi ancaman global.

Dengan kekayaan biodiversitas yang dimiliki Indonesia, pengembangan tanaman herbal untuk akuakultur memiliki prospek yang sangat cerah dan dapat menjadi salah satu strategi utama dalam mewujudkan budidaya perikanan yang sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan.

 

Daftar Pustaka

Astria, Nuryati S, Nirmala K, Alimuddin A. 2017. Effectiveness ambon banana stem juice as immunostimulatory against Aeromonas hydrophila infections in catfish Clarias gariepinus. JAI. 16(2):165–174. DOI:10.19027/jai.16.2.165-174.

Harikrishnan R, Balasundaram C, Jawahar S, Heo MS. 2012. Immunomodulatory effect of Withania somnifera supplementation diet in the giant freshwater prawn Macrobrachium rosenbergii (de man) against Aeromonas hydrophila. Fish Shellfish Immunol. 32(1):94-100. DOI:10.1016/j.fsi.2011.10.027.

Ngo VH 2015. The use of medicinal plants as immunostimulants in aquaculture: A review. Aquaculture. 446:88-96. DOI:10.1016/j.aquaculture.2015.03.014.

Nuryati S, Aulia N, Rahman. 2015. Efektivitas ekstrak batang pisang Musa paradisiaca untuk pengendalian infeksi Saprolegnia sp. pada larva ikan gurami. JAI. 14(2):151–158. DOI:10.19027/jai.14.151-158.

Rahman M, Rahman MM, Deb SC, Alam MS, Alam MJ, Islam MT. 2017. Molecular dentification of multiple antibiotic resistant fish pathogenic Enterococcus faecalis and their control by medicinal herbs. Sci Rep. 7(1):3747. DOI:10.1038/s41598-017-03673-1.

Reverter M, Bontemps N, Lecchini D, Banaigs B, Sasal P. 2014. Use of plant extracts in fish aquaculture as an alternative to chemotherapy: Current status and future perspectives. Aquaculture. 433:50-61. DOI:10.1016/j.aquaculture.2014.05.048.

Talpur AD. 2014. Mentha piperita (Peppermint) as feed additive enhanced growth performance, survival, immune response and disease resistance of Asian seabass Lates calcarifer (Bloch) against Vibrio harveyi infection. Aquaculture. 420:71-78. DOI:10.1016/j.aquaculture.2013.10.039.

Vaseeharan B, Thaya R. 2013. Medicinal plant derivatives as immunostimulants: an alternative to chemotherapeutics and antibiotics in aquaculture. Aquac Int. 22(3):1079-1091.OI:10.1007/s10499-013-9729-3.

Wahjuningrum D, Ikhsan MN, Sukenda, Evan Y. 2014. Penggunaan ekstrak kunyit sebagai pengendali infeksi bakteri Edwardsiella tarda pada ikan lele. JAI. 13(1):1-10. 10.19027/jai.13.1-10.

 

Logo Logo
PPID BALAI RISET BUDIDAYA IKAN HIAS, DEPOK
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Jl. Perikanan Raya No.13, Pancoran Mas, Kec. Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat 16436

085171604719

Email: publikasi.bppbih@gmail.com

Call Center KKP: 141

Hubungi Kami
Total Pengunjung : 225037
© Copyright 2026, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia