JANGAN SALAH PILIH "YUK CARI TAHU JENIS KAROTENOID YANG TEPAT UNTUK IKAN HIAS ANDA"

Selasa, 9 Juni 2026 WIB

Penulis: Nina Meilisza

 

WARNA PADA IKAN HIAS

Warna merupakan salah satu karakteristik utama yang menentukan nilai estetika dan nilai ekonomi ikan hias. Pada berbagai jenis ikan hias seperti koi, mas koki, guppy, discus, cupang, dan cichlid, kualitas warna menjadi faktor yang sangat diperhatikan oleh penghobi maupun pembudidaya. Warna cerah, tajam, merata, dan stabil biasanya memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan ikan dengan warna kusam atau tidak merata. Pembentukan warna ikan hias merupakan proses biologis kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor genetik, lingkungan, kesehatan, umur, dan nutrisi. Salah satu komponen utama berperan dalam pembentukan warna tersebut adalah kromatofor. Kromatofor merupakan sel khusus mengandung pigmen warna dan bertanggung jawab terhadap munculnya berbagai warna pada tubuh ikan. Pemahaman mengenai kromatofor sangat penting dalam budidaya ikan hias karena keberhasilan peningkatan kualitas warna sangat bergantung pada kemampuan sel-sel ini dalam menyerap, menyimpan, dan menampilkan pigmen. Dengan memahami fungsi dan mekanisme kerja kromatofor, pembudidaya dapat menentukan strategi pemeliharaan dan pemberian pakan yang tepat untuk menghasilkan ikan dengan kualitas warna yang optimal.

KROMATOFOR PADA IKAN HIAS: STRUKTUR, FUNGSI, DAN   PERANANNYA DALAM PEMBENTUKAN WARNA

Warna pada ikan hias berasal dari sel pigmen yang disebut kromatofor. Sel ini berada pada lapisan dermis kulit dan mengandung berbagai pigmen yang menghasilkan warna tertentu. Kromatofor berasal dari bahasa Yunani, yaitu chroma yang berarti warna dan phoros yang berarti pembawa. Secara umum, kromatofor dapat diartikan sebagai sel pembawa pigmen yang terdapat pada kulit, sisik, mata, dan beberapa jaringan tubuh hewan, termasuk ikan. Pada ikan hias, kromatofor merupakan sel khusus yang berada di lapisan dermis kulit dan berfungsi menghasilkan, menyimpan, serta mengatur distribusi pigmen warna. Sel-sel ini bekerja dengan cara mengakumulasi berbagai jenis pigmen atau kristal pemantul cahaya yang kemudian menghasilkan warna tertentu pada permukaan tubuh ikan. Kromatofor tidak hanya berfungsi menghasilkan warna, tetapi juga berperan dalam berbagai proses fisiologis seperti kamuflase, komunikasi antar individu, pengenalan pasangan, perlindungan dari predator, dan respons terhadap perubahan lingkungan. Pada ikan hias, fungsi estetika kromatofor menjadi sangat penting karena menentukan kualitas penampilan ikan.

Warna yang terlihat pada tubuh ikan sebenarnya merupakan hasil interaksi antara berbagai jenis kromatofor yang tersusun dalam lapisan kulit. Setiap jenis kromatofor menghasilkan warna yang berbeda, dan kombinasi berbagai kromatofor tersebut menghasilkan pola warna yang sangat beragam pada ikan hias.

Struktur dan Lokasi Kromatofor pada Tubuh Ikan

Kromatofor umumnya berada pada lapisan dermis kulit yang terletak di bawah epidermis. Sel-sel ini memiliki bentuk bercabang seperti bintang dengan tonjolan-tonjolan sitoplasma yang memungkinkan pigmen tersebar ke berbagai arah. Pada ikan hias, kromatofor dapat ditemukan pada Kulit tubuh, Sisik, Sirip, Operkulum (tutup insang), Mata dan Jaringan tertentu di bawah kulit. Jumlah dan distribusi kromatofor berbeda pada setiap spesies ikan. Ikan yang memiliki warna cerah dan mencolok biasanya mempunyai jumlah kromatofor yang lebih banyak dibandingkan ikan dengan warna sederhana. Kepekatan warna suatu ikan sangat dipengaruhi oleh jumlah kromatofor yang dimiliki serta kemampuan sel tersebut dalam menyimpan pigmen. Semakin banyak pigmen yang tersimpan di dalam kromatofor, semakin cerah dan pekat warna yang dihasilkan.

Jenis-Jenis Kromatofor pada Ikan Hias

Warna tubuh ikan dihasilkan oleh beberapa jenis kromatofor yang berbeda. Setiap kromatofor memiliki pigmen atau struktur pemantul cahaya yang khas sehingga menghasilkan warna tertentu.

1.  Melanofor: kromatofor mengandung pigmen melanin dan menghasilkan warna hitam, cokelat tua, atau abu-abu. Melanofor merupakan kromatofor paling banyak ditemukan pada ikan. Pigmen melanin berfungsi melindungi jaringan tubuh dari paparan radiasi ultraviolet serta membantu proses kamuflase. Pada ikan koi misalnya, warna hitam pekat dikenal sebagai pola sumi berasal dari aktivitas melanofor tinggi. Kualitas warna hitam pada koi sangat bergantung pada kepadatan dan distribusi melanofor.

2.  Xantofor: kromatofor yang menghasilkan warna kuning. Pigmen utama yang tersimpan dalam xantofor adalah karotenoid dan pteridin. Warna kuning pada ikan mas koki, koi varietas Yamabuki Ogon, maupun beberapa jenis cichlid berasal dari keberadaan xantofor. Kualitas warna kuning sangat dipengaruhi oleh ketersediaan karotenoid dalam pakan karena sebagian besar ikan tidak mampu mensintesis karotenoid sendiri. Oleh sebab itu, suplementasi lutein, zeaxanthin, atau β-karoten sering dilakukan untuk meningkatkan warna kuning ikan hias.

3.  Eritrofor: kromatofor yang menghasilkan warna merah hingga merah jingga.Pigmen utama yang terdapat dalam eritrofor adalah karotenoid seperti astaxanthin, canthaxanthin, dan β-karoten. Sel ini banyak ditemukan pada ikan koi merah (Kohaku), mas koki merah, discus merah, dan berbagai ikan hias tropis lainnya. Semakin tinggi akumulasi karotenoid dalam eritrofor, semakin pekat dan cerah warna merah yang dihasilkan. Oleh karena itu, astaxanthin menjadi salah satu bahan tambahan pakan yang paling sering digunakan dalam budidaya ikan hias.

4.  Iridofor: iridofor berbeda dengan kromatofor lainnya karena tidak mengandung pigmen warna. Sel ini mengandung kristal guanin yang mampu memantulkan cahaya. Pantulan cahaya dari iridofor menghasilkan warna metalik, perak, biru mengilap, atau efek pelangi. Warna mengkilap pada ikan koi varietas Ogon, ikan cupang metallic, maupun ikan guppy tertentu berasal dari aktivitas iridofor. Selain memberikan efek kilau, iridofor juga berperan dalam meningkatkan kecerahan warna yang dihasilkan oleh kromatofor lainnya.

5.   Leukofor: kromatofor yang menghasilkan warna putih. Sel ini memantulkan seluruh spektrum cahaya sehingga menghasilkan tampilan putih atau putih keperakan. Leukofor sering ditemukan pada ikan koi dengan pola putih dominan seperti Kohaku dan Tancho. Keberadaan leukofor sangat penting karena berfungsi sebagai latar belakang yang mempertegas warna merah, kuning, atau hitam pada tubuh ikan.

 

Mekanisme Kerja Kromatofor

Kromatofor memiliki kemampuan untuk mengubah intensitas warna melalui proses yang disebut dispersi dan agregasi pigmen.

-       Dispersi Pigmen: pada kondisi dispersi, pigmen menyebar ke seluruh percabangan sel kromatofor sehingga warna tampak lebih luas dan lebih pekat.

-       Agregasi Pigmen: pada kondisi agregasi, pigmen berkumpul di bagian tengah sel sehingga warna tampak lebih pucat atau kurang jelas. Proses ini dikendalikan oleh sistem saraf dan hormon, terutama hormon melanocyte-stimulating hormone (MSH) dan melatonin. Faktor lingkungan seperti cahaya, stres, kualitas air, dan suhu juga dapat memengaruhi aktivitas kromatofor. Sebagai contoh, ikan yang mengalami stres sering menunjukkan warna tubuh yang memudar akibat perubahan distribusi pigmen dalam kromatofor.

 

Peran Kromatofor dalam Peningkatan Warna Ikan Hias

Dalam budidaya ikan hias, kromatofor menjadi target utama dalam program peningkatan kualitas warna. Pigmen yang berasal dari pakan akan diserap melalui sistem pencernaan kemudian diangkut ke jaringan tubuh dan disimpan dalam kromatofor. Karotenoid seperti astaxanthin, lutein, zeaxanthin, dan canthaxanthin akan terakumulasi pada xantofor dan eritrofor sehingga meningkatkan intensitas warna kuning, jingga, dan merah. Keberhasilan peningkatan warna sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor Jumlah kromatofor yang dimiliki ikan, kemampuan kromatofor menyimpan pigmen, jenis karotenoid yang diberikan., lama pemberian pakan, faktor genetik ikan dan kondisi lingkungan pemeliharaan. Karena itu, ikan dengan genetik warna yang baik biasanya menunjukkan respons yang lebih tinggi terhadap suplementasi karotenoid dibandingkan ikan dengan kualitas genetik yang rendah.

Kromatofor merupakan sel pembawa pigmen yang berperan penting dalam pembentukan warna pada ikan hias. Sel ini terdapat pada lapisan dermis kulit dan bertanggung jawab dalam menghasilkan, menyimpan, serta mengatur distribusi pigmen warna pada tubuh ikan. Berdasarkan jenis pigmennya, kromatofor terdiri atas melanofor, xantofor, eritrofor, iridofor, dan leukofor yang masing-masing menghasilkan warna hitam, kuning, merah, metalik, dan putih. Kualitas warna ikan hias sangat dipengaruhi oleh jumlah, distribusi, dan aktivitas kromatofor. Selain faktor genetik, nutrisi terutama karotenoid memegang peranan penting dalam meningkatkan kemampuan kromatofor menyimpan pigmen. Oleh karena itu, pemahaman mengenai kromatofor menjadi dasar yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas warna ikan hias melalui manajemen pakan dan pemeliharaan yang tepat.

Pengaruh Faktor Genetik, Lingkungan, dan Nutrisi terhadap Kualitas Warna Ikan Hias

Kualitas warna ikan hias merupakan hasil interaksi yang kompleks antara faktor genetik, lingkungan, dan nutrisi. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan menentukan tingkat kecerahan, kepekatan, keseragaman, serta kestabilan warna pada tubuh ikan. Meskipun pakan berkualitas tinggi dapat meningkatkan warna ikan, hasil yang diperoleh tidak akan optimal apabila faktor genetik dan lingkungan tidak mendukung. Oleh karena itu, pemahaman mengenai peran masing-masing faktor sangat penting dalam budidaya ikan hias.

1.    Faktor Genetik

Genetik merupakan faktor dasar yang menentukan potensi warna suatu ikan. Setiap ikan memiliki susunan gen yang mengatur jenis warna, pola warna, distribusi pigmen, jumlah kromatofor, serta kemampuan tubuh dalam menyerap dan menyimpan pigmen. Pada ikan koi misalnya, varietas Kohaku secara genetik memiliki dasar warna putih dan merah, sedangkan varietas Showa memiliki kombinasi warna hitam, merah, dan putih. Perbedaan warna tersebut sudah ditentukan sejak ikan masih berupa embrio melalui pewarisan sifat dari induknya.

Beberapa aspek genetik yang memengaruhi kualitas warna antara lain:

a. Jumlah dan Jenis Kromatofor: gen mengontrol jumlah sel kromatofor yang terbentuk pada kulit ikan. Ikan yang memiliki jumlah eritrofor atau xantofor lebih banyak cenderung menghasilkan warna merah atau kuning yang lebih cerah.

b. Kemampuan Menyimpan Pigmen: setiap ikan memiliki kemampuan berbeda dalam menyerap dan menyimpan karotenoid. Ikan dengan genetik unggul biasanya mampu mengakumulasi pigmen lebih banyak sehingga warna yang dihasilkan lebih pekat.

c. Stabilitas Warna: beberapa varietas ikan memiliki warna yang relatif stabil sepanjang hidupnya, sedangkan varietas lain mudah mengalami perubahan warna akibat pertumbuhan atau perubahan lingkungan. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor genetik.

d. Pewarisan Sifat Warna: kualitas warna yang baik dapat diwariskan dari induk kepada keturunannya. Oleh karena itu, dalam program pemuliaan ikan hias, pemilihan induk dengan warna cerah, pola warna jelas, dan kualitas genetik unggul menjadi langkah yang sangat penting.

Dengan demikian, genetik dapat dianggap sebagai "batas maksimal" kualitas warna yang dapat dicapai oleh seekor ikan. Nutrisi dan lingkungan hanya membantu mengekspresikan potensi genetik tersebut.

2.    Faktor Lingkungan

Selain genetik, lingkungan merupakan faktor eksternal yang sangat berpengaruh terhadap ekspresi warna ikan. Lingkungan yang baik akan mendukung aktivitas kromatofor sehingga warna ikan tampak lebih cerah dan stabil.

a. Intensitas Cahaya: cahaya memengaruhi aktivitas kromatofor dalam kulit ikan. Paparan cahaya yang cukup dapat merangsang penyebaran pigmen dalam kromatofor sehingga warna tampak lebih terang dan tajam. Sebaliknya, kondisi yang terlalu gelap dapat menyebabkan warna menjadi kusam karena pigmen berkumpul di bagian tengah sel kromatofor. Pada budidaya ikan koi dan mas koki, pencahayaan alami maupun buatan sering dimanfaatkan untuk mempertahankan kualitas warna.

b. Kualitas Air: parameter kualitas air seperti suhu, pH, oksigen terlarut, dan kadar amonia sangat memengaruhi kondisi fisiologis ikan. Kualitas air yang buruk dapat menyebabkan stres sehingga aktivitas kromatofor terganggu dan warna ikan menjadi pudar. Selain itu, energi yang seharusnya digunakan untuk pembentukan warna akan dialihkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup.

c. Suhu Air: suhu memengaruhi laju metabolisme ikan. Pada suhu optimal, proses penyerapan nutrisi dan deposisi pigmen berlangsung lebih efektif. Sebaliknya, suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat menghambat metabolisme sehingga warna ikan tidak berkembang secara maksimal.

d. Warna Latar Belakang Wadah: warna akuarium atau kolam dapat memengaruhi respons kromatofor. Ikan yang dipelihara pada wadah berwarna gelap sering menunjukkan warna yang lebih pekat dibandingkan ikan yang dipelihara pada wadah berwarna terang. Fenomena ini merupakan bentuk adaptasi alami ikan terhadap lingkungan sekitarnya.

e. Tingkat Stres: stres akibat kepadatan tinggi, penanganan yang kasar, serangan penyakit, atau perubahan lingkungan secara mendadak dapat menyebabkan pelepasan hormon stres seperti kortisol. Peningkatan hormon stres dapat menghambat penyebaran pigmen pada kromatofor sehingga warna tubuh ikan menjadi lebih pucat.

3.    Faktor Nutrisi

Nutrisi merupakan faktor yang paling mudah dikendalikan dalam budidaya ikan hias. Pakan yang mengandung nutrisi lengkap dan pigmen yang sesuai dapat meningkatkan kualitas warna secara signifikan.

a. Karotenoid: karotenoid merupakan pigmen alami yang paling berperan dalam peningkatan warna ikan hias. Karena ikan tidak mampu mensintesis karotenoid sendiri, maka senyawa ini harus diperoleh melalui pakan. Karotenoid yang umum digunakan antara lain: Astaxanthin untuk warna merah dan jingga, Lutein untuk warna kuning, Zeaxanthin untuk warna kuning keemasan, Canthaxanthin untuk warna merah tua dan β-karoten untuk warna kuning-oranye.

Karotenoid akan diserap di usus, diangkut melalui darah, kemudian disimpan dalam eritrofor dan xantofor sehingga meningkatkan intensitas warna.

b. Protein: berfungsi sebagai sumber asam amino yang diperlukan untuk pertumbuhan jaringan dan pembentukan kromatofor. Kekurangan protein dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat dan warna ikan menjadi kurang cerah.

c. Lipid: karotenoid merupakan senyawa yang larut dalam lemak. Oleh karena itu, keberadaan lipid dalam pakan sangat penting untuk membantu proses penyerapan dan transportasi karotenoid di dalam tubuh.

d. Vitamin: beberapa vitamin berperan dalam menjaga kualitas warna, antara lain:Vitamin A untuk kesehatan jaringan kulit, Vitamin C sebagai antioksidan. Vitamin E untuk melindungi pigmen dari kerusakan oksidatif.

e. Mineral: seperti selenium, seng, dan besi berperan dalam berbagai proses metabolisme yang mendukung kesehatan kulit dan pembentukan warna.

4.    Interaksi Antara Genetik, Lingkungan, dan Nutrisi

Ketiga faktor tersebut bekerja secara sinergis dalam menentukan kualitas warna ikan. Sebagai contoh:

·   Ikan dengan genetik unggul tetapi diberi pakan rendah karotenoid menghasilkan warna kurang optimal.

·   Ikan dengan pakan kaya karotenoid tetapi memiliki genetik warna rendah tidak akan mampu menghasilkan warna maksimal.

·  Ikan dengan genetik dan pakan baik tetap dapat mengalami penurunan warna apabila dipelihara dalam lingkungan yang buruk atau mengalami stres.

Hubungan ini dapat dianalogikan sebagai berikut:

Genetik = Potensi warna maksimum

Nutrisi = Bahan pembentuk warna

Lingkungan = Faktor pendukung ekspresi warna

Apabila ketiga faktor tersebut berada pada kondisi optimal, maka kualitas warna ikan hias akan berkembang secara maksimal, menghasilkan warna yang cerah, pekat, seragam, dan stabil sesuai karakteristik varietasnya.

Kualitas warna ikan hias dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, dan nutrisi yang saling berinteraksi. Faktor genetik menentukan potensi dasar warna melalui pengaturan jumlah kromatofor, pola warna, dan kemampuan menyimpan pigmen. Faktor lingkungan seperti cahaya, kualitas air, suhu, dan tingkat stres memengaruhi ekspresi warna yang tampak pada tubuh ikan. Sementara itu, nutrisi terutama karotenoid berperan sebagai sumber pigmen yang diperlukan untuk meningkatkan intensitas warna. Oleh karena itu, keberhasilan menghasilkan ikan hias dengan warna berkualitas tinggi memerlukan kombinasi antara genetik unggul, lingkungan pemeliharaan yang optimal, dan pemberian pakan yang mengandung nutrisi serta karotenoid yang sesuai.

Karotenoid adalah kelompok pigmen alami berwarna kuning, jingga, hingga merah yang banyak ditemukan pada tumbuhan, alga, bakteri, dan beberapa organisme akuatik. Karotenoid termasuk senyawa lipofilik (larut dalam lemak) yang berfungsi sebagai: Pigmen pewarna alami, antioksidan kuat, Prekursor vitamin A, peningkat sistem imun.dan pelindung sel dari kerusakan oksidatif. Berbeda dengan tumbuhan, ikan tidak mampu mensintesis karotenoid sendiri. Oleh karena itu, kebutuhan karotenoid harus dipenuhi melalui pakan. Selain meningkatkan warna tubuh, karotenoid juga berperan dalam:meningkatkan kesehatan ikan, mendukung reproduksi, mengurangi stres oksidatif.dan meningkatkan daya tahan terhadap penyakit.

JENIS-JENIS KAROTENOID PENTING PADA IKAN HIAS

a. Astaxanthin: merupakan karotenoid yang paling populer dalam industri ikan hias. Karakteristik: menghasilkan warna merah cerah hingga merah jingga, memiliki aktivitas antioksidan sangat tinggi, efisien diserap oleh ikan. Sumber alami astaxanthin contohnya Haematococcus pluvialis, krill, udang, kepiting. Astaxanthin sangat efektif digunakan pada koi merah, mas koki merah, discus merah, ikan salmonid.

b. Lutein: merupakan pigmen berwarna kuning hingga kuning-oranye. Sumber alami lutein: marigold (Tagetes erecta), jagung, bayam, alfalfa. Karakteristik lutein meliputi: memperkuat warna kuning, meningkatkan warna emas pada ikan, cocok untuk varietas ikan berwarna kuning.

c. Canthaxanthin: menghasilkan warna merah-oranye yang lebih tua dibandingkan astaxanthin. Karakteristik: banyak digunakan pada koi dan ikan salmon, stabil dalam pakan, efektif meningkatkan warna merah gelap.

d. Zeaxanthin: merupakan pigmen kuning-oranye yang sering ditemukan pada jagung dan paprika. Fungsi: memperkuat warna kuning, meningkatkan kualitas warna emas, berperan sebagai antioksidan.

e. β-Karoten: merupakan prekursor vitamin A. Karakteristik: menghasilkan warna kuning-oranye, meningkatkan kesehatan jaringan, mendukung pertumbuhan. Namun efektivitasnya dalam meningkatkan warna umumnya lebih rendah dibandingkan astaxanthin dan lutein.

 

PENGARUH KAROTENOID TERHADAP KUALITAS WARNA IKAN HIAS

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa suplementasi karotenoid mampu meningkatkan:

  • Kecerahan Warna (Lightness): Warna menjadi lebih terang dan menarik.
  • Kepekatan Warna (Chroma): Warna tampak lebih pekat dan tajam.
  • Keseragaman Warna: Pigmen tersebar lebih merata pada tubuh ikan.
  • Stabilitas Warna: Warna lebih tahan lama dan tidak mudah memudar.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada penelitian ikan mas koki, perlakuan lutein maupun kombinasi lutein dan astaxanthin memberikan peningkatan nyata terhadap parameter Lightness dan Chroma dibandingkan kontrol. Selain meningkatkan kualitas warna, karotenoid juga berfungsi sebagai antioksidan, meningkatkan sistem imun, mengurangi stres, mendukung kesehatan reproduksi.

Jenis dan Dosis Karotenoid untuk Kualitas Warna Ikan Hias

Pemilihan jenis karotenoid harus disesuaikan dengan warna target ikan.

Warna Target

Karotenoid Utama

Merah

Astaxanthin, Canthaxanthin

Jingga

Astaxanthin, β-karoten

Kuning

Lutein, Zeaxanthin

Emas

Lutein, Zeaxanthin

Merah-kuning kombinasi

Astaxanthin + Lutein

Rekomendasi Dosis:

Astaxanthin: dosis 30–100 mg/kg pakan untuk pemeliharaan rutin, sedangkan 100–200 mg/kg pakan baik untuk peningkatan warna intensif.

Lutein: berikan dosis 50–200 mg/kg pakan.

Kombinasi Astaxanthin dan Lutein: memberikan spektrum warna lebih luas, cocok untuk ikan dengan warna merah-kuning. Dosis terbaik antara 100-200 mg/kg pakan.

 

KESIMPULAN

Warna merupakan faktor utama yang menentukan nilai estetika dan ekonomi ikan hias. Pembentukan warna dipengaruhi oleh interaksi antara faktor genetik, lingkungan, dan nutrisi, terutama karotenoid. Karotenoid merupakan pigmen alami yang harus diperoleh dari pakan karena ikan tidak mampu mensintesisnya sendiri.

Astaxanthin, lutein, canthaxanthin, zeaxanthin, dan β-karoten merupakan jenis karotenoid yang paling banyak digunakan dalam budidaya ikan hias. Masing-masing memiliki karakteristik warna yang berbeda sehingga pemilihannya harus disesuaikan dengan warna target ikan. Oleh karena itu, keberhasilan peningkatan kualitas warna ikan hias tidak hanya bergantung pada jumlah karotenoid yang diberikan, tetapi juga pada ketepatan pemilihan jenis karotenoid sesuai karakter warna yang ingin ditingkatkan.

Logo Logo
PPID BALAI RISET BUDIDAYA IKAN HIAS, DEPOK
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Jl. Perikanan Raya No.13, Pancoran Mas, Kec. Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat 16436

085171604719

Email: publikasi.bppbih@gmail.com

Call Center KKP: 141

Hubungi Kami
Total Pengunjung : 230236
© Copyright 2026, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia