APAKAH DAUN TURI DAPAT DIGUNAKAN UNTUK PIGMENTASI DAN PERTUMBUHAN IKAN HIAS

Selasa, 30 Desember 2025 WIB

Oleh: NINA MEILISZA

Balai Riset Budidaya Ikan Hias

Kementerian Kelautan dan Perikanan

 

PENDAHULUAN

 

Tanaman turi (Sesbania grandiflora) merupakan tanaman yang mudah ditemui di sekitar lingkungan. Tanaman ini dapat tumbuh di tempat-tempat yang agak teduh dan tanah kapur ataupun tanah yang tandus sehingga tanaman ini dapat tumbuh subur walaupun pada musim kemarau dan sifat khusus dari tanaman turi ini adalah pertumbuhannya yang begitu cepat. Beberapa penelitian telah merekomendasikan daun turi sebagai pakan tambahan untuk hewan. Daun turi telah dimanfaatkan oleh ayam buras dara, ikan bawal dan sapi potong namun belum ada penelitian lebih lanjut terhadap ikan hias.

Hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa daun turi memiliki kandungan protein dan lemak masing-masing 31,7% dan 1,9% yang menunjukkan bahwa kandungan nutrisinya sangat potensial untuk pertumbuhan. Selain itu, penelitian beberapa dekade sebelumnya melaporkan bahwa daun turi memiliki kandungan karotenoid sekitar 70 µg/g dan penelitian kami menunjukkan kandungan sebesar 0,15% sehingga cukup potensial digunakan sebagai bahan pakan  ikan alternatif dan sumber karotenoid bagi ikan hias. 

Di alam ada lebih dari 800 jenis pigmen karotenoid yang ditemukan. Karotenoid adalah sumber pigmen yang dapat ditemukan pada banyak makhluk hidup tumbuhan ataupun hewan di alam mulai dari yang berukuran mikroskopis seperti alga dan zooplankton, hingga tanaman tingkat tinggi serta hewan. Pemanfaatan sumber karotenoid untuk pigmentasi ikan hias banyak dilakukan dengan menggunakan hewan seperti zooplankton dan krustasea namun sedikit sekali yang memanfaatkan tanaman tingkat tinggi seperti tanaman turi.

Karotenoid khususnya pada ikan hias adalah sumber pigmen penting yang digunakan untuk menghasilkan warna kulit dan sisik. Pigmen ini tersimpan dalam sel integumen ikan yang disebut “sel kromatofor”. Karotenoid mampu menyuplai pigmen kuning, merah dan jingga pada sel kromatofor. Namun, ikan tidak mampu menyintesis karotenoid sendiri dalam tubuhnya, sehingga suplai karotenoid sangat tergantung pada ketersediaannya dalam pakan. Untuk mempertahankan dan atau meningkatkan kualitas warna maka pakan ikan hias harus mengandung karotenoid yang dibutuhkan tersebut. Hal ini karena warna adalah salah satu kriteria penting yang menentukan harga dan kualitas ikan hias.

 Perkembangan ikan hias di Indonesia yang terus meningkat, membutuhkan teknologi yang mampu memiliki daya saing di pasar global. Keunggulan ikan hias  Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara lain adalah adanya jenis atau spesies endemik. Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan spesies ikan air tawar. Sebagai ‘Megabiodiversitas Dunia”, Indonesia memiliki 440 spesies ikan air tawar endemik yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Dari sekian banyak jenis ikan hias yang berhasil didosmestikasi, hanya sebagian yang dapat dibudidayakan salah satunya adalah ikan rainbow Kurumoi (Melanotaenia parva) endemik Danau Kurumoi, Papua.

Sebagai jenis ikan hias endemik yang terdomestikasi secara eksitu, ikan rainbow Kurumoi menemui kendala dalam mempertahankan kualitas warnanya. Pemeliharaan ikan rainbow Kurumoi di akuarium dengan pakan komersial menyebabkan kualitas warna yang dihasilkan menurun (pudar) dan lebih rendah dibandingkan di alam. Hal ini menyebabkan penampilannya menjadi kurang menarik. Padahal ikan ini telah menjadi salah satu komoditas ekspor Indonesia di pasar dunia.

Upaya pemanfaatan sumber karotenoid dari tanaman dapat menurunkan ketergantungan akan sumber karotenoid buatan dan meningkatkan pemanfaatan bahan baku yang sifatnya lokal dan banyak tersedia di alam sehingga dapat mengurangi biaya produksi pakan ikan. Potensi daun turi yang diketahui memiliki sumber karotenoid bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber karotenoid.

 

 

UJI COBA PEMANFAATAN PAKAN BERBAHAN BAKU DAUN TURI PADA IKAN HIAS RAINBOW

 

Tahap pembuatan tepung daun turi meliputi pengumpulan daun turi di alam, kemudian daun turi dipisahkan dari batangnya agar lebih mudah dalam proses pengeringan. Daun turi yang terkumpul kemudian dikeringkan menggunakan oven bersuhu 60ºC hingga kering. Setelah itu, daun turi digiling menggunakan blender hingga menjadi tepung dan diayak.

Untuk mengetahui efektivitas pakan berbahan baku daun turi dalam pertumbuhan dan kualitas warna ikan hias rainbow Kurumoi, dilakukan ujicoba pada berbagai dosis penggunaan. Dosis yang digunakan berupa 0; 1; 1,5; 2 ppm karotenoid dalam pakan atau setara dengan 0; 70; 105; 140 gram tepung daun turi per kg pakan komersial berturut-turut disimbolkan dengan A;B;C; dan D. Untuk mendapatkan hasil yang dapat dipercaya, setiap dosis dilakukan ulangan sebanyak tiga kali.

 Tahap pembuatan pelet pakan dilakukan dengan menghancurkan pakan komersial terlebih dahulu. Selanjutnya mencampur seluruh jenis bahan (pakan komersial, tepung daun turi, dan binder) ke dalam wadah dan diaduk hingga tercampur rata. Kemudian ditambahkan air sedikit demi sedikit hingga lembab. Selanjutnya dimasukkan ke dalam mesin cetak pelet dan setelah selesai pelet di oven hingga kering. Pelet yang telah kering kemudian di giling agar menjadi potongan yang lebih kecil. Selanjutnya dilakukan pengayakan untuk memisahkan hasil penggilingan sesuai ukurannya. Pelet yang dipilih yaitu pelet yang sesuai ukuran bukaan mulut ikan.

Wadah yang digunakan adalah akuarium berjumlah 12 akuarium yang berukuran 20 liter. Akuarium dibersihkan menggunakan spons, dibilas dikeringkan. Setelah itu, akuarium diisi dengan air sebanyak 12 liter dan dipasang aerator. Ikan uji yang digunakan yaitu ikan Rainbow kurumoi yang berasal dari Balai Riset Budidaya Ikan Hias.

Sebelumnya ikan diadaptasikan terlebih dahulu terhadap media budidaya dan diberi pakan komersial secara at satiation. Setelah masa adaptasi selesai ikan dipuasakan selama 24 jam dengan tujuan untuk menghilangkan pengaruh sisa pakan dalam tubuh ikan. Ikan diukur bobotnya dengan neraca analitik dan pengukuran panjang total ikan dilakukan dengan menggunakan kertas milimeter blok dengan bantuan kamera. Ikan ditebar sebanyak 5 ekor per akuarium.

Pemeliharaan ikan dilakukan selama 40 hari dengan pemberian pakan perlakuan sebanyak 6% dari biomassa ikan perhari dan diberikan dalam tiga tahapan yakni pada jam 08.00, 12.00 dan 16.00 WIB masing-masing sebanyak 1/3 dari kadar pakan per hari (2% dari biomassa ikan) dengan pakan sesuai masing-masing perlakuan. Pengamatan pertumbuhan biomassa dan warna ikan dilakukan melalui sampling ikan setiap 10 hari sekali. Pengukuran panjang dan bobot ikan menggunakan kertas millimeter blok dan timbangan digital. Warna kuning, jingga dan hitam memiliki beberapa jenis dan gradasi. Pengamatan warna kuning dan jingga dilakukan pada dorsal badan dan sirip ekor serta warna hitam pada area linea lateralis. Pengukuran warna dilakukan secara visual menggunakan alat Toca Color Finder (TCF).

 

Gambar 1. Area pengamatan warna ikan Rainbow kurumoi

 

 

 

Gambar 2. Pengukuran nilai warna dan panjang pada ikan dengan Toca Color Finder (TCF) dan milimeter blok. 

 

Gambar 3. Jenis dan gradasi warna kuning (a), jingga (b) dan hitam (c)

 

 

Sistem kontrol air dilakukan dengan membersihkan akuarium setiap pagi sebelum pemberian pakan. Hal ini dilakukan agar pakan tidak tercampur dengan kotoran ikan dan menjaga agar kondisi air tetap bersih. Akuarium dibersihkan dengan menggunakan spons dan dibiarkan beberapa saat hingga kotoran mengendap didasar akuarium. Selanjutnya kotoran tersebut disedot dengan menggunakan selang kecil. Air yang dikeluarkan sekitar 75%. Setelah selesai ditambahkan air yang telah diaerasi dari tandon hingga volumenya 12 L.

 

 

PENAMPILAN WARNA IKAN RAINBOW KURUMOI

 

Kemunculan warna jingga pada ikan rainbow Kurumoi sangat diharapkan karena merupakan jenis warna yang diinginkan oleh pembudidaya dan hobiis. Hal ini dikarenakan warna jingga lebih menarik dibandingkan warna kuning. Peningkatan warna jingga tertinggi dihasilkan oleh perlakuan 100 ppm dengan jumlah warna jingga 46% pada bagian dorsal dan 40% pada bagian sirip ekor. Pada kontrol jumlah warna yang dihasilkan adalah 20% pada bagian dorsal dan 26,7% pada bagian sirip ekor, perlakuan 150 ppm dihasilkan 33,3% pada dorsal dan 40% pada sirip ekor serta perlakuan 200 ppm menghasilkan 26,7% pada dorsal dan 33,3% pada sirip ekor.

 

Gambar 4. Penampilan ikan rainbow Kurumoi yang diberi beberapa konsentrasi tepung daun turi

 

 

Tabel 1. Persentase kemunculan warna kuning dan jingga pada bagian dorsal dan sirip ekor

 

Peningkatan warna selama pengamatan berfluktuasi. Kepekatan warna jingga tertinggi pada akhir pengamatan dihasilkan oleh perlakuan 100 ppm dan 200 ppm pada bagian dorsal, sementara pada bagian sirip ekor menghasilkan kepekatan yang sama kecuali pada kontrol. Sementara warna kuning paling pekat dihasilkan oleh perlakuan kontrol pada bagian dorsal dan 150 ppm pada bagian ekor.

Penggunaan Toca Color Finder (TCF) sebagai pendekatan untuk menganalisis warna ikan hias sering dilakukan oleh beberapa peneliti. Kesulitan yang terjadi dalam analisis mennggunakan TCF sistem penomoran dan gradasi warnanya terlalu rumit untuk dikonversi ke dalam nilai (skor). Oleh karena itu, penilaian menggunakan menggunakan TCF pada penelitian ini adalah untuk melihat kecenderungan perubahan warna sebelum dan sesudah diberi perlakuan.

Hal ini mengindikasikan bahwa pemberian 100 ppm dari tepung daun turi untuk ikan rainbow adalah yang optimal. Persentase yang menurun pada perlakuan 150 ppm menunjukkan bahwa dosis yang lebih tinggi tersebut tidak mampu dimanfaatkan dengan baik oleh ikan. Hal ini diduga karena pakan terlalu pekat sehingga ikan tidak dapat memanfaatkan karotenoid dengan baik dalam sistem metabolisme ikan.

Persentase warna jingga lebih banyak diperoleh pada bagian ekor dibandingkan bagian dorsal, tetapi warna jingga lebih pekat pada bagian dorsal. Hal ini diduga karena adanya perbedaan struktur antara bagian dorsal dan sirip ekor. Konsentrasi pigmen pada jaringan tergantung pada jenis pigmen, kadar pigmen dalam pakan, kemampuan ikan dalam mendeposit atau mengkonversi pigmen dan lama pemberiannya.

Warna hitam pada linea lateralis menghasilkan kepekatan warna yang mendekati konstan. Hal ini diduga karena karotenoid pada daun turi lebih memicu pembentukan pigmen jingga dan kuning dibandingkan hitam. Warna hitam pada linea lateralis yang diharapkan yaitu semakin kontras dengan warna latar atau semakin gelap. Sel pigmen dalam tubuh ikan jumlahnya dapat berubah sehingga dapat mempengaruhi warna pada ikan. Jika sel-sel pigmen tersebar secara merata maka warna tubuh ikan akan tampak lebih pekat, tetapi apabila sel-sel pigmen mengumpul di satu titik inti sel maka warna tubuh akan menjadi pucat.

Perubahan warna yang disebabkan oleh penambahan pigmen dalam kromatofor merupakan perubahan morfologis, sedangkan perubahan warna yang disebabkan oleh pergerakan pigmen di dalam kromatofor disebut perubahan fisiologis. Perubahan jumlah pigmen di dalam sel dan aktivitas pergerakan dikontrol oleh sistem saraf pusat dan hormon yang salah satunya dipengaruhi oleh pakan yang diberikan. Beberapa faktor yang mempengaruhi pigmentasi pada ikan, antara lain ukuran ikan, umur ikan, perkembangan seksual dan faktor genetik.

Panjang ikan pada akhir pengamatan berkisar antara 5-7 cm, hal ini menunjukkan bahwa ikan yang diamati belum dewasa sehingga pigmentasi yang diperoleh belum atau tidak maksimal. Semakin dewasa ikan, intensitas kecerahan tubuh ikan semakin meningkat, pada umur tertentu intensitas warna akan kembali turun sehingga dibutuhkan sumber karotenoid yang lebih tinggi. Secara umum ikan akan menyerap karotenoid yang ada di dalam pakan secara langsung dan menggunakannya sebagai pembentuk pigmen untuk meningkatkan intensitas warna pada tubuh ikan. Secara fisiologis ikan akan mengubah pigmen yang diperoleh dari makanannya, sehingga menghasilkan variasi warna.

  

PERTUMBUHAN IKAN RAINBOW KURUMOI

 

     Ikan rainbow Kurumoi yang diberi penambahan tepung daun turi menghasilkan pertumbuhan panjang dan berat yang lebih lambat dibandingkan tanpa tepung daun turi. Kecilnya pertambahan panjang ikan dikarenakan ikan ini memiliki pertumbuhan yang lambat.

Gambar 5. Panjang mutlak ikan rainbow kurumoi selama penelitian

Daun turi memiliki kandungan glikosida yaitu saponin, tanin, fenol, kardiak glikosida dan antrakuinon glikosida. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan yang kuat dan menimbulkan busa jika dikocok dalam air. Saponin larut dalam air dan alkohol tapi tidak dalam eter. Pengaruh saponin terhadap ikan telah banyak dilaporkan, diantaranya bahwa saponin merusak sel epitel pernapasan, meningkatkan konsumsi oksigen, sel darah merah, hemoglobin dan haematokrit.

Penurunan rata-rata pertumbuhan diduga disebabkan adanya saponin. Saponin dapat mengabsorpsi Ca (kalsium) dan Si (Silikon) dan membawanya dalam saluran pencernaan. Ca merupakan makromineral yaitu mineral yang dibutuhkan oleh tubuh ikan dalam jumlah yang relatif besar. Mineral kalsium (Ca) memiliki fungsi struktural yaitu fungsi mineral untuk pembentukan struktur seperti tulang, gigi dan sisik ikan serta berperan dalam kontraksi otot ikan. Silikon (Si) merupakan mikronutrien bagi ikan akan tetapi hingga kini belum diketahui fungsinya bagi ikan. Sifat saponin yang mengikat Ca diduga menjadi penyebab menurunnya rata-rata pertambahan panjang individu seiring meningkatnya konsentrasi tepung daun turi.

Pengamatan terhadap bobot ikan menunjukkan bahwa ikan yang tidak diberi perlakuan penambahan tepung daun turi (kontrol) mengalami penambahan bobot selama pengamatan sementara ikan yang diberi tambahan tepung daun turi memiliki bobot yang lebih rendah pada akhir penelitian dibandingkan bobot ikan pada awal penelitian.  Penurunan bobot ikan ini diduga karena ikan mengalami malnutrisi. Malnutrisi terjadi dikarenakan pakan yang diberikan tidak memenuhi kebutuhan pemeliharaan (maintenance).

Malnutrisi adalah keadaan dimana tubuh tidak mendapat asupan gizi yang cukup, malnutrisi dapat juga disebut keadaaan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan di antar pengambilan makanan dengan kebutuhan gizi untuk mempertahankan kesehatan. Ini bisa terjadi karena asupan makan terlalu sedikit ataupun pengambilan makanan yang tidak seimbang. Selain itu, kekurangan gizi dalam tubuh juga berakibat terjadinya malabsorpsi makanan atau kegagalan metabolik (Oxford medical dictionary, 2007 dalam Azmi, 2010). Penyebab malnutrisi dapat dibagi kepada dua penyebab yaitu malnutrisi primer dan malnutrisi sekunder. Malnutrisi primer adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh asupan protein maupun energi yang tidak mencukupi. Malnutrisi sekunder adalah malnutrisi yang terjadi karena kebutuhan yang meningkat, menurunnya absorpsi dan peningkatan kehilangan protein maupun energi dari tubuh (Kleigmen dkk, 2007 dalam Azmi, 2010).

 

Gambar 6. Bobot mutlak ikan rainbow kurumoi selama penelitian

 

Menurunnya bobot ikan pada pemberian pakan yang diberi tambahan tepung daun turi diduga karena menurunnya absorpsi makanan oleh ikan. Hal ini dapat disebabkan karena daun turi merupakan pakan hijauan dengan kandungan serat daun turi 9,2 g setiap 100 g daun turi kering. Serat adalah bahan yang sukar dicerna. Kandungan serat yang tinggi akan membuat ikan menggunakan energi yang lebih besar  untuk mencerna serat tersebut, sehingga diduga penurunan bobot pada ikan salah satunya disebabkan oleh serat dalam daun turi. Semakin besar penambahan tepung daun turi, semakin besar kandungan serat yang ada dalam pakan dan semakin tinggi energi yang dibutuhkan untuk mencerna serat yang ada dalam pakan.

Sifat saponin ini diduga menjadi salah satu penyebab menurunnya pertambahan bobot pada perlakuan dikarenakan saponin bersifat toksik bagi ikan. Pengaruh zat toksik terhadap ikan menyebabkan morfologi insang berubah dan tidakmenyebabkan kematian dalam periode panjang. Selain itu, zat toksik dapat merusak fungsi respirasi dari insang sehingga proses metabolisme dalam tubuh terganggu dan menurunkan laju pertumbuhan.

 

 

KESIMPULAN

 

Pemberian sumber karotenoid dari daun turi memberikan persentase dan kepekatan warna jingga paling optimal pada konsentrasi karotenoid 100 ppm dalam pakan. Persentase warna jingga tertinggi diperoleh dari bagian dorsal. Penggunaan tepung daun turi dengan konsentrasi karotenoid lebih dari 100 ppm dalam pakan berpotensi menurunkan kinerja pertumbuhan dikarenakan adanya kandungan saponin yang bersifat antinutrisi pada ikan. Hal ini menginformasikan bahwa tepung daun turi dapat memberikan pengaruh terhadap pigmentasi ikan namun penggunaannya harus dibatasi agar tidak menurunkan kinerja pertumbuhan ikan.

Logo Logo
PPID BALAI RISET BUDIDAYA IKAN HIAS, DEPOK
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Jl. Perikanan Raya No.13, Pancoran Mas, Kec. Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat 16436

085171604719

Email: publikasi.bppbih@gmail.com

Call Center KKP: 141

Hubungi Kami
Total Pengunjung : 230169
© Copyright 2026, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia